Analisis Perbedaan Kedua Artikel
Analisis Perbedaan Dua Artikel tentang Pembelajaran Wudhu dalam Pendidikan Agama Islam
1. Identitas Kedua Artikel
| Aspek | Artikel 1 | Artikel 2 |
|---|---|---|
| Judul | Peningkatan Prestasi Belajar PAI Materi Wudhu Melalui Metode Demonstrasi pada Siswa Kelas II Sekolah Dasar | Peran Guru Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dalam Pembelajaran Tata Cara Wudhu pada Siswa Sekolah Khusus Tunarungu Don Bosco Wonosobo |
| Penulis | Wijiati (Guru SDN 1 Sukadana) | Nofi Listiani & Abdul Majid (Universitas Sains Al-Qur’an) |
| Sumber Jurnal | Penelitian Tindakan Kelas SDN 1 Sukadana (Tahun 2017) | JMPAI: Jurnal Manajemen dan Pendidikan Agama Islam, Vol. 2, No. 5, September 2024 |
| Metode Penelitian | Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan tiga siklus | Penelitian Kualitatif Deskriptif (Lapangan) |
| Subjek Penelitian | 32 siswa kelas II SD | Siswa tunarungu di SLB Don Bosco Wonosobo |
| Fokus Kajian | Efektivitas metode demonstrasi untuk meningkatkan prestasi belajar siswa dalam materi wudhu | Peran guru PAI dalam mengajar dan membimbing siswa tunarungu memahami tata cara wudhu |
| Hasil Utama | Peningkatan ketuntasan belajar siswa dari 44% menjadi 87,5% setelah menggunakan metode demonstrasi | Guru PAI menggunakan metode pengulangan, praktik individual, dan visualisasi agar siswa tunarungu mampu memahami wudhu dengan baik |
2. Penjelasan dan Isi Masing-Masing Artikel
A. Artikel 1 – Wijiati (SDN 1 Sukadana)
Artikel ini merupakan hasil Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan oleh seorang guru SD bernama Wijiati.
Penelitiannya bertujuan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa dalam pelajaran PAI, khususnya materi wudhu, melalui metode demonstrasi.
a. Latar Belakang
Guru merasa bahwa pembelajaran sebelumnya terlalu monoton karena hanya menggunakan metode ceramah. Akibatnya, siswa cepat bosan, kurang memperhatikan, dan tidak memahami praktik wudhu dengan benar.
Untuk itu, guru mengganti metode mengajar menjadi metode demonstrasi, yaitu guru memperagakan langsung cara wudhu, lalu siswa menirukan langkah-langkahnya.
b. Metode dan Proses Penelitian
Penelitian ini dilakukan dalam tiga siklus, dan setiap siklus melibatkan:
Perencanaan (planning) – Menyiapkan RPP, alat, dan lembar observasi.
Pelaksanaan tindakan (action) – Guru mengajarkan wudhu dengan demonstrasi.
Observasi (observation) – Pengamat menilai aktivitas guru dan siswa.
Refleksi (reflection) – Mengevaluasi hasil dan memperbaiki untuk siklus berikutnya.
Setiap siklus memiliki target ketuntasan minimal (KKM) = 75.
c. Hasil Penelitian
Dari hasil pengamatan dan tes, diperoleh peningkatan prestasi sebagai berikut:
Siklus I: 44% siswa tuntas
Siklus II: 56% siswa tuntas
Siklus III: 87,5% siswa tuntas
Dengan demikian, penggunaan metode demonstrasi berhasil meningkatkan prestasi belajar siswa secara nyata.
d. Kesimpulan
Guru menyimpulkan bahwa metode demonstrasi:
Membuat siswa lebih aktif dan tidak mudah bosan.
Membantu siswa belajar praktik langsung sehingga pemahaman lebih kuat.
Efektif digunakan untuk materi praktik ibadah seperti wudhu, shalat, atau tayamum.
Jadi, penelitian ini berfokus pada bagaimana strategi mengajar (metode demonstrasi) bisa meningkatkan hasil belajar siswa SD.
B. Artikel 2 – Nofi Listiani & Abdul Majid (JMPAI, 2024)
Artikel kedua ini dimuat di Jurnal Manajemen dan Pendidikan Agama Islam (JMPAI) Volume 2 Nomor 5 Tahun 2024.
Peneliti melakukan penelitian di SLB Don Bosco Wonosobo, sebuah sekolah luar biasa untuk anak tunarungu (gangguan pendengaran).
Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana peran guru PAI dalam mengajarkan tata cara wudhu kepada siswa tunarungu.
a. Latar Belakang
Siswa tunarungu memiliki keterbatasan dalam mendengar dan berbicara, sehingga guru harus menemukan cara khusus agar pembelajaran tetap efektif.
Guru PAI di SLB Don Bosco memiliki tanggung jawab besar untuk menanamkan ajaran agama, meskipun siswa mengalami hambatan komunikasi.
Oleh karena itu, guru menerapkan metode pengulangan, demonstrasi, dan praktik individual agar siswa memahami langkah-langkah wudhu dengan baik.
b. Metode Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif (lapangan).
Data diperoleh melalui:
Observasi langsung kegiatan belajar.
Wawancara dengan guru PAI dan kepala sekolah.
Dokumentasi (catatan kegiatan dan foto praktik belajar).
Data dianalisis melalui tiga tahap:
Reduksi data (menyaring informasi penting)
Penyajian data (mendeskripsikan hasil temuan)
Penarikan kesimpulan (verifikasi)
c. Hasil Penelitian
Guru PAI di SLB Don Bosco menggunakan metode pengulangan terus-menerus, karena siswa tunarungu memiliki daya ingat pendek.
Guru juga melakukan demonstrasi gerakan wudhu satu per satu, agar siswa bisa melihat dan menirukan.
Komunikasi dilakukan dengan membaca gerak bibir dan bahasa isyarat sederhana.
Guru berperan tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pembimbing, motivator, dan fasilitator.
Guru juga memastikan siswa memahami bacaan, gerakan, dan urutan wudhu secara benar, meski pembelajaran memerlukan waktu lebih lama.
d. Kesimpulan
Penelitian ini menunjukkan bahwa:
Guru PAI memiliki peran penting dalam menyesuaikan metode pembelajaran dengan karakter siswa berkebutuhan khusus.
Metode pengulangan dan praktik langsung sangat efektif bagi siswa tunarungu.
Pendidikan agama di SLB harus menekankan kesabaran, pengulangan, dan contoh nyata.
Fokus penelitian ini adalah pada peran dan strategi guru dalam pendidikan Islam untuk siswa dengan kebutuhan khusus.
3. Analisis Perbandingan Kedua Artikel
| Aspek | Artikel 1 (SDN 1 Sukadana) | Artikel 2 (SLB Don Bosco) |
|---|---|---|
| Jenis Sekolah | Sekolah Dasar Umum | Sekolah Luar Biasa (khusus tunarungu) |
| Tujuan Utama | Meningkatkan prestasi belajar siswa melalui metode demonstrasi | Menjelaskan peran guru PAI dan metode pengajaran adaptif bagi siswa berkebutuhan khusus |
| Jenis Penelitian | Kuantitatif (PTK) | Kualitatif (Deskriptif lapangan) |
| Metode Pengajaran | Demonstrasi langsung oleh guru | Pengulangan, praktik individual, dan bahasa isyarat |
| Fokus Utama | Hasil belajar siswa (nilai & ketuntasan) | Proses pembelajaran dan peran guru |
| Hasil Akhir | Prestasi belajar meningkat hingga 87,5% siswa tuntas | Siswa tunarungu memahami wudhu meski butuh pengulangan dan bimbingan intensif |
| Peran Guru | Sebagai pengajar dan evaluator | Sebagai pendidik, pembimbing, motivator, mediator, dan fasilitator |
| Konteks Sosial | Siswa normal di sekolah umum | Siswa disabilitas di sekolah khusus |
| Nilai Pendidikan | Menunjukkan pentingnya variasi metode dalam PAI | Menunjukkan pentingnya empati dan kesabaran dalam mendidik siswa berkebutuhan khusus |
4. Kesimpulan Umum
Dari dua artikel tersebut, dapat disimpulkan bahwa:
Keduanya sama-sama membahas pembelajaran wudhu dalam Pendidikan Agama Islam (PAI), namun dengan sasaran dan pendekatan berbeda.
Artikel Wijiati lebih fokus pada cara mengajar efektif untuk meningkatkan hasil belajar siswa SD umum melalui metode demonstrasi.
Artikel Nofi Listiani & Abdul Majid menekankan peran dan strategi guru dalam mendidik siswa tunarungu, dengan pendekatan pengulangan dan praktik langsung.
Keduanya sama-sama menegaskan pentingnya peran guru PAI dalam membentuk pemahaman dan keterampilan beribadah pada siswa.
5. Makna Pendidikan yang Dapat Diambil
Dari perbandingan ini, kita bisa belajar bahwa:
Guru PAI harus fleksibel dan kreatif. Di sekolah umum, guru perlu variasi metode agar siswa tidak bosan. Di sekolah khusus, guru harus sabar dan menyesuaikan cara mengajar dengan kebutuhan siswa.
Pendidikan Islam tidak hanya soal teori, tetapi juga praktik. Baik siswa normal maupun disabilitas, semua perlu contoh nyata dan pembiasaan dalam ibadah seperti wudhu.
Metode demonstrasi dan pengulangan sama-sama efektif, asalkan diterapkan sesuai karakter siswa.
Dengan demikian, peran guru bukan sekadar “mengajar,” tetapi juga mengarahkan, membimbing, dan menanamkan nilai keagamaan dengan kasih sayang dan keteladanan.
Komentar
Posting Komentar